Startifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukkan adanya pembedaan atau pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Pembedaan pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu simbol-simbol tertentu yang dianggap berharga atau bernilai, baik itu berharga bernilai secara sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, maupun dimensi lainnya dalam suatu kelompok sosial (komunitas). Simbol-simbol tersebut misalnya, kekayaan, pendidikan, jabatan, kesalehan dalam beragama, dan pekerjaan.
Jazirah Arab mempunyai daerah yang cukup luas. Wilayahnya sebagian besar berupa padang pasir. Hanya ada beberapa daerah yang subur, misalnya di daerah selatan dan sebagian daerah utara. Posisi geografisnya yang jauh dari pusat kerajaan besar dan kondisi alamnya yang sulit dijangkau, menyebabkan kawasan ini luput dari cengkraman kedua imperium besar ( Romawi-Bizantium dan Persia). Pembagian dalam masyarakat juga sangat tergantung pada kondisi obyektif geografis. Laki-laki menjalankan peran publik, seperti mencari nafkah dan mempertahankan keluarga dari bahaya. Sedangkan perempuan berperan sektor domestik, seperti mengasuh anak dan mengatur urusan rumah tangga.
Salah satu faktor yang mendukung suksesnya misi Nabi Muhammad SAW karena ajaran-ajaran yang dibawanya adalah ajaran yang berisi pembebasan dari berbagai penindasan. Kemerdekaan merupakan sesuatu yang sangat langka, karena kemerdekaan yang sebenarnya hanya didasarkan oleh segelintir manusia yang ada dilapisan atas. Perempuan adalah salah satu kelompok didalam masyarakat yang hampir tidak pernah menikmati kemerdekaan, karena disamping harus tunduk kepada struktur yang ada diatasnya, juga harus tunduk kepada kaum laiki-laki didalam struktur masyarakatnya. Maka tidak heran jika kaum perempuan sangat berharap suksesnya Nabi Muhammad SAW dalam menjalani misinya. Untuk memahami keberadaan dan peran yang dimainkan Islam, diperlukan pemahaman mendalam terhadap stratifkasi sosial budaya bangsa Arab menjelang dan ketika al-Qur’an diturunkan. Misi al-Qur’an hanya dapat dipahami secara utuh setelah memahami kondisi sosial budaya bangsa Arab.
Baiklah teman-teman, dalam hal ini mengapa para wanita sangat mengharapkan keberhasilan misi Nabi Muhammad SAW? Jelas kita ketahui jawabannya. Masyarakat Arab atau kaum arab dulu selalu menganggap bahwa perempuan adalah aib. Sampai-sampai, jika ada seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan ia pun harus menahan pedihnya berita atau kabar bahwa putrinya harus dibunuh. Seorang perempuan, di pandangan orang Arab masa dulu dianggap sebagai sumber kekacauan. Oleh karena itu, perempuan merasa bahwa tidak ada kebebasan atau hak kemerdekaan bagi mereka. Itulah salah satu sebab mereka mendukung dan mengharapkan keberhasilan misi Nabi Muhammad SAW agar mereka juga mendapat hak-hak yang layak ia dapatkan.
Baiklah teman-teman, dalam hal ini mengapa para wanita sangat mengharapkan keberhasilan misi Nabi Muhammad SAW? Jelas kita ketahui jawabannya. Masyarakat Arab atau kaum arab dulu selalu menganggap bahwa perempuan adalah aib. Sampai-sampai, jika ada seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan ia pun harus menahan pedihnya berita atau kabar bahwa putrinya harus dibunuh. Seorang perempuan, di pandangan orang Arab masa dulu dianggap sebagai sumber kekacauan. Oleh karena itu, perempuan merasa bahwa tidak ada kebebasan atau hak kemerdekaan bagi mereka. Itulah salah satu sebab mereka mendukung dan mengharapkan keberhasilan misi Nabi Muhammad SAW agar mereka juga mendapat hak-hak yang layak ia dapatkan.
Masyarakat Arab secara umum memiliki kehidupan yang seragam yang terdiri dari 3 macam yaitu : Kaum Badui, Petani dan Kaum Urban. Ketiga model ini memiliki kontribusi besar dalam pembentukan struktur sosial bagi masyarakat Arab. Saad E Ibrahim (1982:236-237) mengungkapkan bahwa masyarakat Arab pada abad ke-7 hingga 19 secara umum telah berlaku stratifikasi sosial. Kelas-kelas sosial di masyarakat Arab terus berkembang dikarenakan kecenderungan di negara-negara Arab berada pada proses transisi pada abad ke-20. Proses pembangunan yang berjalan, baik secara fisik maupun non fisik yang dilakukan pemerintah memicu distribusi kekayaan kepada individu yang berada dikelas lainnya, diluar kelas yang mengembangkan kekayaan tersebut.
Seseorang dapat memiliki dua kelas yang berbeda dimensi, yaitu di satu sisi terdapat kelas yang setara dengan upper class, tetapi di sisi yang lain, seseorang itu bisa saja menjadi lower class dalam dimensi pekerjaan.
1. Kerajaan dan Keluarga Kerajaan
Pada pernyataan Ibrahim (1982:52) bahwa upper class adalah kaum elite yang berasal dari keluarga kerajaan itu sendiri. Kerajaan dan keluarga kerajaan mendapat posisi utama dalam pengelolaan dan stratifikasi tertinggi dalam tatanan kenegaraan.
2. Kaum Kaya
Perkembangan ekonomi Arab Saudi membawa berfungsi berbagai implikasi bagi struktur sosial, terutama pada lapisan menengah yang berkembang lebih jauh. Kaum badui sebagai pemilik tempat awal stratifikasi sosial paling rendah di Arab Saudi berkembang menjadi berbagai bentuk perubahan yang disebabkan perkembangan ekonomi baru di Arab Saudi pasca penemuan minyak di Arab Saudi. Kaum badui mengalami detribalisasi dan menunjukan berbagai perubahan seperti pada aspek ekonomi yang dikembangkan oleh Abdul Aziz bin Abdurrahaman Al Saud dan menciptakan tatanan sosial-komunal yang baru. Kaum badui yang memiliki ciri khusus mencair dan berubah dalam berbagai bentuk, seperti halnya dengan kaum kaya baru yang menempati startifikasi sosial Arab Saudi. Masuknya suasana ekonomi baru melahirkan pelaku-pelaku ekonomi baru yang menciptakan dinamika baru di masyarakat Arab Saudi, yang kemudian membawa mereka menjadi kaum kaya.
3. Kelas Menengah Baru
Wujud lain dari adanya interaksi antara orang-orang selain Arab Saudi dengan Arab Saudi adalah kaum menegah diantara orang-orang tersebut. Adanya kaum badui yang tinggal di Arab Saudi, lalu kedatangan orang-orang asing berasal dari luar Arab Saudi memiliki point of knowlage yang berbeda fenomena sosial yang terjadi pada saat itu. Jenis menengah baru ini adalah orang-orang yang awalnya tidak terlihat langsung dalam perkembangan kehidupan dan negara Arab Saudi. Mereka adalah ekspatriat asing yang datang ke Arab Saudi dan orang-orang Arab Saudi yang memiliki posisi baru dalam tatanan sosial di Arab Saudi.
Teman-teman sekalian, stratifikasi sosial ini ada, bahkan bukan hanya di wilayah Arab. Namun, hampir di seluruh penjuru dunia. Di wilayah Arab yang kita ketahui bahwasanya sistem pemerintahan yang dianut adalah sistem monarki. Dimana yang berkuasa adalah sang raja. Maka di sini, jika dilihat dari tingkat sosial atau kelompok sosial maka raja atau pemegang kekuasaan dan keluarganya di arab merupakan golongan elite atau upper class. Sedangkan, rakyat biasa bisa dikatakan atau dikelompokkan pada golongan kelas bawah.
Seperti yang telah sampaikan di atas, bahwasanya dia Arab terdapat pengelompokan sosial. Dimana, diantaranya ada kaum elite atau laum atas, kaum menengah, dan kaum bawah. Termasuk kaum elit selain raja dan keluarganya, juga selain perdana menteri, penasehat kerajaan, juga ada kaum kaya. Kaum kaya atau masyarakat yang memiliki kekayaan di masyarakat Arab juga tergolong sebagai kaum elit. Hal ini, bisa terjadi larena mereka mengelolah minyak atau perekonomian yang ada. Namun, jika masyarakat Arab yang baru melakukan perekonomian dan mendapatkan penghasilan serta pengetahuan yang baru mereka dikategorikan sebagai kelompok menengah. Ya,,, stratifikasi ini, sama halnya yang ada di Indonesia. Dimana di negara kita, sering kali kita dengar bahwa ada kelompok yg ekonominya menengah ke atas dan juga yang ekonominya menengah ke bawah.
Mungkin, ini sedikit dari pada secuil pengetahuan yang saya tahu. Semoga berkah dan bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab.
Teman-teman sekalian, stratifikasi sosial ini ada, bahkan bukan hanya di wilayah Arab. Namun, hampir di seluruh penjuru dunia. Di wilayah Arab yang kita ketahui bahwasanya sistem pemerintahan yang dianut adalah sistem monarki. Dimana yang berkuasa adalah sang raja. Maka di sini, jika dilihat dari tingkat sosial atau kelompok sosial maka raja atau pemegang kekuasaan dan keluarganya di arab merupakan golongan elite atau upper class. Sedangkan, rakyat biasa bisa dikatakan atau dikelompokkan pada golongan kelas bawah.
Seperti yang telah sampaikan di atas, bahwasanya dia Arab terdapat pengelompokan sosial. Dimana, diantaranya ada kaum elite atau laum atas, kaum menengah, dan kaum bawah. Termasuk kaum elit selain raja dan keluarganya, juga selain perdana menteri, penasehat kerajaan, juga ada kaum kaya. Kaum kaya atau masyarakat yang memiliki kekayaan di masyarakat Arab juga tergolong sebagai kaum elit. Hal ini, bisa terjadi larena mereka mengelolah minyak atau perekonomian yang ada. Namun, jika masyarakat Arab yang baru melakukan perekonomian dan mendapatkan penghasilan serta pengetahuan yang baru mereka dikategorikan sebagai kelompok menengah. Ya,,, stratifikasi ini, sama halnya yang ada di Indonesia. Dimana di negara kita, sering kali kita dengar bahwa ada kelompok yg ekonominya menengah ke atas dan juga yang ekonominya menengah ke bawah.
Mungkin, ini sedikit dari pada secuil pengetahuan yang saya tahu. Semoga berkah dan bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar